Total Tayangan Halaman

Sabtu, 09 Februari 2013

Mocaco Lova (1)

     Aktivitas biasa. Hanya menyeduh segelas teh bersama teman kesukaanku, camilan rumput laut garing dari Thailand (tepatnya Alfamart di depan gerbang perumahan). Trust me, it's delicious. Meniup ke arah cankir teh, sesekali menatap hujan yang berlomba turun diluar sana. Aku masih tertegun melihat kilatan petir menyambar kesana kemari. Sebuah efek yang bagus di panorama pagi. Ah, untung saja ini hari minggu, bung!. Aku bisa menikmati teh lebih lama, menghangatkan badan, melancarkan semua aliran beku di tubuhku. Rasanya darahku berhenti dikepala, rasanya sakit sekali setelah semalaman begadang hanya untuk paper bodoh dari guruku! Damn!. Oh ya, aku tak pernah melupakan saus tomat diatas rumput laut. Rasa amis tercuci habis dan melebur dalam aroma laut. Mencoba untuk melupakan kelelahan. Mencoba untuk bernafas lebih tenang walaupun alam bergemuruh kejam. Mencoba menetralisir  gabungan antara teh manis dan rumput laut plus saus tomat. Serdadu komplekss! Aku terhanyut dalam suasana...
     Ibuku mencoba memanggilku berulang kali. Seakan terhipnotis dengan aroma aneh bin ajaib, aku terus menikmati, segar.Mengayam antara bulu-bulu dipinggiran kelopak mata.Mimpi-mimpi ditengah hujatan petir menyambar kosenterasi. Teriakan ibuku bersamaan kilatan menamparku dalam dunia nyata. Ah, payah! Baru saja aku bermimpi! tenang!. Sontak aku berdiri terkejut, tegap, meyakinkan, namun masih dalam kondisi yang benar-benar kehilangan stamina hidup.
     "Yes, mom?" tanya-ku.
     "God, kamu ngapain sih? cepat siap-siap, ganti pakaianmu. Kita jemput Om Fred di bandara." perintah ibuku dengan mata belotot. Alih-alih aku memperhatikan pakaian ibuku yang modis dan membandingkan dengan aku yang kumal, rasanya seperti dijungkar-balikan antara hitam dan putih. Polesan bedak dan blasson ibuku jauh lebih merona dibanding polesan keringat kering garing yang masih menempel di wajahku.  Oh, I'm a beast. lol.
     "Om Fred? Bang Predi, mom?" tanyaku sekali lagi.
     "Ocaa, cepet mandi! Ganti bajumu! Ibu tunggu dibawah!" Bentak ibuku sembari berjalan pergi menjauh, meninggalkan orang-orangan sawah yang masih ingin meneguk teh lagi.
"Iya" jawabku hanya dengan ekspresi dingin, menuju kamar mandi. Pikirku akan banyak hadiah yang dibawa Om Predi dari USA.
    Predi adalah paman terbaikku sepanjang sejarah.Dia berperawakan tinggi, putih, sedikit chinese, mukanya oval, badannya berisi dan sangat ramah. Dia asik bagiku. Umurnya hampir 40, namun rasanya seperti temanku sendiri. Dia hebat dalam berbicara, maklum pekerjaannya adalah menjadi public relations.  Dia yang memperkenalkan aku dengan teman karibnya di USA. Bahkan temannya menjamin aku untuk studi S1 dengan prasyarat yang mudah. Hanya saja aku masih kelas 2 SMA. Itu tahun lalu, kini aku kelas 3 SMA. Om Predi pasti akan membicarakan soal ini, soal studi ke luar negeri. Pasti dia sudah mantap dalam rencananya menyekolahkanku. Katanya aku punya bakat. Bakat dalam meyakinkan orang.
     Tak banyak pikir lagi, aku langsung memakai sweater pink warna pastel dilanjut dengan celana jeans setengah luntur. Ikatan rambutku seperti seorang pemain tenis. Aku memakai bedak bayi merek jerman dan parfum pria merek paris. Ya, aku memang aneh. Sweater pink-ku pasti tidak sesuai dengan sepatu kulit koboi coklat muda dari kota Garut. Aku memakasa ibuku membelikannya liburan kemarin. Dan jadilah aku yang rempong, kata orang sih. Aku mencari kalung bergambar kartun Mario (tokoh game), meraba-raba laci, menghancurkan lipatan baju, mungkin ada di kolng kasur!. Hampir pasrah ketika ibuku teriak dengan kerasnya, sampai aku menemukan kalung (yang benar saja! Memang di kolong kasur, bung!)  dan memakainya. Aku melihat jendela sebelum pergi, aku menemukan langit sudah cerah. Itulah tanda hidupku hari ini. Say greeting for my world! .
     "Mooom, aku dataaang!" timpalku. Om Prerdi atau Om Fred pasti menungguku bilang YES. Tapi mataku berbicara lain, yang kupikirkan detik ini adalah kesedihanku untuk meninggalkan Mocaco Lova.

...

bersambung 

2 komentar: