Total Tayangan Halaman

Minggu, 08 Desember 2013

Sepatu (cerbung)

Kala hujan menikam bumi. Tidak ada yang bisa disalahkan, kecuali si kurus kerempeng di seberang sana. Menggenggam kaleng bekas minuman berkarat menuju ke arah mobil Rianti.  Anak itu mengetuk kaca mobil berlabel swift, tapi lagi-lagi Rianti menghiraukannya. Ia hanya memutar bola mata, menelan ludah. Suara dihatinya berkecamuk meminta kebebasan. Entah apa yang menggaggunya.Rianti membanting setir, melaju kencang saat mata hijau menyala.
Sesekali Rianti melirik si anak kurus  lewat kaca spionnya. Mata tak bisa lagi berbohong. Sedetik mata bulatnya mulai berkaca-kaca. Rasanya bukan hal yang mudah menyaksikan kejadian brutal seperti itu. Ya, menurut Rianti itu adalah brutal ! Membiarkan seorang anak kecil menghirup asap knalpot, mempertaruhkan nyawa oleh sebuah tiang lampu merah!
Rianti kembali terhenti. Batinnya sedikit demi sedikit mereda. Ia bukan seorang yang berlebihan, ia tahu betul apa yang terjadi di jalanan. Mobilnya yang kembali tertahan lampu merah kini benar-benar wajar. Semua mobil berhenti seperti seorang manusia yang dibungkam. Orang-orang berjalan diselasar trotoar, ada juga yang menyebrangi jalan dengan terburu-buru. Ia mengamati dengan seksama. Menelusuri jalan sejauh mata memandang. Hingga kosenterasinya terpecahkan oleh dering telepon.
"Assalamualaikum, Rianti here." sapa Rianti.
"Selamat pagi. Jam meeting akan diadakan 15 menit dari sekarang. Bisakah anda menyiapkan persentasi secepatnya?" tanya Bu Elena, salah satu karyawan senior di kantornya.
"Pagi, baik bu. Saya akan segera di kantor"
"kami tidak memberikan toleransi, baiklah." jaringan tiba-tiba terputus. Tidak ada suara sapaan di akhir percakapan. Rianti termenung, dan tiba-tiba terkesiap dengan suara-suara klakson yang menghujatiya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar