Total Tayangan Halaman

Selasa, 10 Desember 2013

Just share ! #technology



Mengingat sekarang adalah zaman dimana semua teknologi berkembang. Sejujurnya itu adalah suatu kebanggaan kita lahir di zaman yang memiliki semua fitur untuk mempermudah kehidupan. Kita berada di era virtual yang menuntut semua orang untuk mengikuti perubahan. Tentu saja jika kita tidak memaksakan untuk berubah, kita pasti akan tertinggal bahkan tertindas.
Sebuah ironi jika satu keluarga di meja makan terpaku pada gadget masing-masing. Hampir sama sekali tidak ada bentuk komunikasi langsung diantara mereka. Walaupun secara tidak langsung, kita sedang berkomunikasi dan lebih dekat dengan orang diluar sana. Tapi kenyataannya kita menjauh terhadap aspek dihadapan kita.
Seorang anak bisa saja sama sekali tidak canggung degan fitur-fitur didalamnya. Setiap gerakan jemari dan matanya begitu cepat. Wajar saja anak itu bereaksi lebih cepat. Namun kenyataannya otak anak tersebut bekerja cepat untuk menjadi lambat. Apa maksudnya? Lihat saja anak yang pasih memainkan PES. Mereka terus menekan joy dan memenangkan permainan. Setelah semua berakhir, lihatlah matanya. Bukankah mata anak tersebut lebih lelah bukan? Ya, otak yang terlalu keras bekerja demi sebuah permainan yang lama-kelamaan akan mencapai suatu titik jenuh. Alhasil dalam sehari-hari anak tersebut akan lambat dalam segala tindakan 

Kenyataan pahit ini nyatanya sudah terbukti. Guna sebuah teknologi adalah untuk membantu kehidupan bukannya mempersulit. Apa jadinya jika semua makanan yang diolah dengan teknologi canggih ternyata menimbulkan efek luar biasa pada kesehatan? Sekali lagi, kita pasti tidak akan berpikir dua kali dengan masalah perut. Karena semakin kompleksnya kebutuhan hidup manusia, semakin cepatnya alur produksi yang terjadi. So, mau tidak mau, para pengusaha  pemenuh kebutuhan harus membuat suatu produk dengan teknologi. Tentu saja agar efisien dan efektif. Tapi teknologi tersebut tak seutuhnya baik untuk kita. Bahkan perusahaan zaman sekarang sudah bergantung dan hanya sedikit sekali memproduksi bang dengan cara 100% manual.
Entahlah, teknologi itu memang menguntungkan tapi sangat berdampak. Internet yang memiliki kelengkapan data, nyatanya tak membuat seseorang menjadi kutu buku. Dampak yang sangat besar ketika mereka tidak ada ketertarikan terhadap buku. Ini adalah suatu fenomena penting. Buku adalah sumber dari semua ilmu. Walaupun terdapat fitur E-Book, tetap saja itu terlalu laman untuk memahami secara luas tentang ilmu. Dengan membaca buku, pikiran kita jauh lebih kritis dibanting hanya sekedar membaca wiki**dia.
Benar-benar tantangan yang sulit hidup dizaman sekarang. Disini kita berdiri sekuat mungkin menghadapi perubahan. Karena yang bertahan adalah pemenangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar