Total Tayangan Halaman

Sabtu, 21 Desember 2013

mySky (cerita bersambung)

Pemandangan tak seperti biasanya. Arum hanya bisa menatap jendela. Langit yang begitu sendu, sembab bersama air mata langit jatuh begitu derasnya. Kini tidak ada hal yang bisa dilakukannya, kecuali terus memandang alam luar. Sejenak ia berpikir, seharusnya dia sudah berangkat sedari tadi ke acara pameran teknologi. Entahlah, ia terus mengaduk teh hangat manisnya.

Suasana pecah mendengar deru langkah kaki dibaliik pintu. Ada yang datang. Kini langkah itu berhenti, diganti oleh suara ketukan pelan memanggil Arum untuk membukanya. Namun tak secepat itu, ia meletakkan cangkir favorit di atas meja, memakai sandal rumahan bentuk panda yang lebih besar dari pada kakinya, ia pun berjalan dengan lambannya menuju pintu. 

"Oh, mba, ada apa?" tanya Arum kepada mba siti, pembantu setianya. Mungkin sudah bertahun-tahun adegan seperti ini selalu ada setiap pagi dan selalu dijawab makanan udah siap. Bodohnya, walaupun Arum sudah tau itulah jawaban andalah mba Siti, tapi selalu saja ia bertanya dengan nada datar. Senyuman tipis terlukis di wajah manis Arum.
"Oke, aku kesana, lima menit lagi", jawab Arum cepat, mba Siti buru-buru meninggalkan kamar seraya melayangkan lap dapur ke bahunya.

Arum berdiri kaku menghadap jendela. Kini pandangannya kosong. Tiba-tiba air matanya menetes, melihat sesuatu yang indah diluar sana. Sinar matahari mulai menusuk gerombolan awan buram dan menghadirkan rangkaian warna samar yang indah. Itu dia, pelangi. Ia tersenyum. Memang tidak ada yang spesial, semua orang pasti melihat ini. Fenomena umum yang tak perlu diteriaki dengan histeris. Namun Arum terus meneteskan air matanya. Wajah campuran Indo-Belanda, dengan perawakan yang tinggi dan ideal, rambutnya yang terurai sedikit bergelombang sepanjang bahu, terus terpaku melihat langit yanng detik demi detik mulai cerah.
"Pelangi, bawa aku pergi ke tempat Ibu"-


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar