Total Tayangan Halaman

Minggu, 13 April 2014

Gelandang Sastra

Hai April !

Namaku Nafisah Arinilhaq, panggil saja Ica. Tulisan ini mungkin tidak seatraktrif tulisan lainnya. Menghayati suatu kejadian, memaknai kehidupan, lebih baik dalam penyusunan kata baku.

Tepat tanggal 11 April 2014, Yogyakarta,  7 hari dari ulang tahunku. Aku begitu bahgianya menyambut bulan ini sekaligus terlalu sedih bertambah usiaku. Yang terpenting bagiku adalah rasa syukur kepada-Nya.

Hari itu begitu kelabu. Aku hanya berpangku kepada tanah dalam nangan langit yang terus menatapku cemberut, alih-alih hampir mengeluarkan tetesan air hujan. Namun sepertinya tak saat itu, aku langsung menyambar kantor pers mahhasiswa, mengerjakan sekelumit tugas yang membuatku terasa begitu mengalir untuk berpikir.

Tak ubah seorang mahasiswa yang rajin membaca buku, aku kembali berpindah tempat. Menanam hentakan diubin-ubin putih. Perpustakaan fakultas itu layaknya tempat terindah bagiku dimana semua hamparan dunia tersirat dalam banyak kata. Semenit kemudian aku menatap layar ponic-ponic merek Korea Selatan, bertulis pesan singkat yang membuatku kembali keluar pintu.

"Ada pameran ! Ayo ikut"

Tanpa pikir panjang aku menemui temanku, namanya Affi dan Uli.

Langit tampak sedikit berseri, raungan knalpot-knalpot menyibakkan asapnya. Dengan kecepatan 80 km/jam, aku terus berkelok, entah berapa kendaraan yang ku salip. Hingga kami menemukan satu titik cerah, sebuah rumah mungil bertuliskan IAM, memampangkan poster modernnya.

Sebuah pameran tunggal dari Sinta Carolina, sebuah sketsa yang begitu hebat dan menginspirasi. Walaupun kami setengah malu karena kami bukanlah tamu VIP yang sebenarnya tidak berhak masuk sebelum acara pembukaan. Tapi pesona lukisan itu, kami terus menerjang udara, kami tersenyum kecil, coretan pulpen, lipatan kertas, WOW !

aku dan goresan kapur karya Sinta Carolina
Tak mudah untuk mengangkat kaki dan memaksa pergi dari pameran. Sebagai penikmat seni, waktu setengah jam pun terlalu sempit, apalagi kami belum lihat keseluruhan karyanya. Well, aku akan pergi kesana lagi :D

Waktu bergulir, dalam kesunyian terdengar samar-samar suara adzan. Kami melaju kem masjid yang katanya mesjid yang begitu penting dan hebat.  Aku hanya menatap senja, magrib membuatku merasakan kedamaian.

Begitu herannya, pejalanan menuju masjid itu, kutemui orang-orang bahkan kaum hawa mengenakan rukuh, bergegas. Sedikit heran, karena aku biasa menjumpai pemandangan ini disaat ramadhan tiba, ya, saat shalat tarawih.

Dan ketika aku memasuki mesjid bertingkat dengan rambatan tanaman bewarna hijau, begitu tergetarnya hati. Allahu Akbar. Masjid ini ramai, ramai sekali, ini hari biasa, bukan ramdhan. Ini shalat fardhu, namun jamaah perempuan dan lelaki begitu padat. Anak-anak kecil yang bersemangat, bahkan ada satu warung makan (angkringan) ditinggalkan begitu saja, pemiliknya menegakkan shalat. Plat plat mobil beragam letter terpakir, sang sopir keluar dengan baju koko. Ruangan ruangan terbuka dengan sengaja, padahal yang kutangkap, dalamnya terdapat elektronik, penjaganya mengambil air wudhu. Orang-orang yang cerah parasnya, bershalawat sebelum shalat fardhu.

Sentak aku menangis.

Masih adakah orang muslim Indonesia yang seperti ini? Aku membayangkan hidup di kampun ini, sebuah masjid pinggir jalan dalam gang sempit bisa memiliki kotak amal yang dibedakan atas sedekah uang dan sedekah beras? Membayangkan begitu terangkatnya perekonomian dan tertuntaskan kemiskinan. Masjid ini, memang hebat.

...

Tak menyurutkan semangat, kami bergegas ke gedung ARC. Sebuah pameran bertemakan konstruksi, dihiasa berbagai macam pembangunan masa kini. Banyak pesan yang terdapat dalam seonggok batu bata. Sebuah batang daun pohon kelapa terlihat mengitari dinding. Ya, ini keren sekali. Bagaimana bisa tembok yang sengaja dihancurkan agar pengunjung pameran percaya dalam tembok terdapat sebuah pesan-pesan yang bisa memberikan pelindungan dalam bentuk rumah, gedung, benteng, dll.

dibelakangnya padahal keren lhoo !
Menurut judul kami menjadi gelandang satra. Mengapa bisa?
Aku, Affi dan Uli menyempatkan diri ke Exhabition Party yang baru dibuka malam itu. Namun kami tak bisa masuk kesana karena kondisi hujan lebat. Kami berteduh di emperan ruko.

Seorang turis menggunakan sepeda motor Indonesia terlihat sangat mini sekali dibandingkan badannya,terlihat kebingungan. Uli menghampirinya, dan benar saja ia sedang mencari acara exhabition party. Bule itu begitu berterimakasih dan melesat pergi memeluk hujan.

Disana kami saling menatap, oh hari ini sungguh hebat. Detik itu kami kemudian bercerita perjalanan dari pagi sampai menjadi gelandang selama 2 jam. Duduk berdiskusi, memulai bersastra alih-alih orang menatap heran. Kami terus bercerita, menginspirasi, menyemangati. Kami kemudian menatap langit, terlihat hujan mereda. Kami tersenyum, dan mulai berselancar dijalan aspal menuju dunia baru!

Yeaah, hari itu mengesankan ! Terimakasih !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar